jika berminat hubungi kami di :
Fandi (021) 90-593-990
Agus (021) 93-368-559
Udo 0813-8413-1489
komplek pelni blok A 3 no.2, Cimanggis - Depok, 16418
Selasa, 07 September 2010
Lenses photography
jika berminat hubungi kami di :
Fandi (021) 90-593-990
Agus (021) 93-368-559
Udo 0813-8413-1489
komplek pelni blok A 3 no.2, Cimanggis - Depok, 16418
Jumat, 15 Januari 2010
Ular Selamatkan Satu Keluarga di Cina dari Kebakaran
Sabtu, 02 Januari 2010 | 08:38 WIB
TEMPO Interaktif, Beijing - Seorang pria Cina yang merawat ular yang sekarat, telah diselamatkan oleh ular tersebut dengan membunyikan alarm saat rumah mereka nyaris terbakar.
Pria tersebut, Yu Feng, dari Fushun, di provinsi Liaoning, Cina, menemukan ular hitam yang sekarat di luar rumahnya, seperti ditulis Liaosheng Evening Post. "Saya sembuhkan dengan obat-obatan herbal, dan dalam 20 hari ular itu pulih," katanya.
Dia lalu mengembalikan ular itu ke gunung terdekat yang berjarak satu mil jauhnya untuk melepaskannya kembali ke alam bebas. Namun keesokan paginya ular itu kembali ke rumahnya.
"Saya kemudian membebaskannya dua kali, namun selalu kembali," tambah Yu. "Orang-orang di sekitar saya mengatakan bahwa ular itu datang kembali untuk membayar kembali kebaikan hatiku, jadi aku menyimpannya."
Ia menamai ular Long Long dan diadopsi sebagai hewan peliharaan. Suatu malam, ular itu menyelamatkan seluruh keluarga.
Yu menjelaskan "Aku sedang tidur ketika tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di wajahku. Aku membuka mata dan itu Long Long. Dia tak pernah membangunkanku sebelumnya tapi aku begitu mengantuk, aku kembali tidur.” Tapi Long Long kembali meraih pakaian Yu dengan giginya dan mencambuk tempat tidur dengan ekornya.
"Kemudian ia pergi ke tempat tidur ibu saya dan dicambuk pula tempat tidurnya dengan ekornya. Aku terbangun kemudian dan mencium bau sesuatu yang terbakar, dan melihat selimut listrik ibuku terbakar sehingga aku melompat bangun dan mematikannya."
Ahli reptil setempat mengatakan ular tidak memiliki kecerdasan untuk bertindak dengan cara ini. Tetapi Yu percaya Long Long bertindak seperti itu untuk membayar kebaikannya karena menyelamatkan hidupnya sendiri.
Kamis, 14 Januari 2010
Jangan Ketinggalan Hipnotis Massal Malam Ini
Senin, 04 Januari 2010 | 20:29 WIB
TEMPO Interaktif, London - Ribuan orang diperkirakan akan ambil bagian dalam sesi hipnotis massal di internet Senin (4/1) malam ini atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Hipnotis Chris Hughes akan mencoba untuk menetapkan rekor dunia untuk ribuan orang yang bersedia dihipnotis.
hipnotisDia telah menerima pendaftaran lebih dari 6.300 orang ke acara SocialTrance melalui Facebook dan Twitter. Hughes, dari Banbury, Oxfordshire, kepada Sky News Online mengatakan semula dia hanya berpikir hanya beberapa orang yang akan tertarik.
“Sejak saat itu ternyata jumlahnya jadi gila. Aku mendapatkan satu atau dua pendaftaran per menit dan orang-orang telah mendaftar dari 90 negara - dari Peru sampai Israel. Media sosial adalah cara baru untuk berkomunikasi. Ini merupakan cara sempurna untuk membantu mendidik dunia tentang hipnosis."
Untuk bergabung dalam acara hipnotis massal ini, anda hanya perlu duduk di kursi yang nyaman, di depan sebuah komputer dengan koneksi internet yang dilengkapi pengeras suara atau headphone.
Hughes ingin memastikan orang yang ikut untuk berada di tempat yang tenang dan tidak akan terganggu selama audio dalam saluran web nanti hidup terus. Acara akan dimulai pada pukul 8:30 malam waktu London di Indonesia sekitar 03.30 WIB. Acara akan berlangsung selama sekitar setengah jam.
Dia mengatakan sesi ini dirancang untuk membantu orang mencapai tujuan mereka di tahun baru, apakah itu berhenti merokok, menurunkan berat badan atau mendapatkan kepercayaan. "Hipnotis memberi anda kemampuan untuk menerima saran-saran untuk perubahan. Ini adalah tentang mengubah program inti dari pikiran."
Hughes menegaskan semua yang dilakukan aman. "Tidak perlu takut, itu sebenarnya perasaan santai dan benar-benar perasaan tenang.” Dia menambahkan bahwa sesi ini bukan tentang, Hughes mengendalikan orang. “Mereka akan bertanggung jawab, apakah mereka akan tetap tinggal di sesi ini atau tidak. Mereka bisa pergi kapan saja."
Anak di bawah 18 tahun, orang-orang yang sedang hamil, menderita penyakit mental atau di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan tidak disarankan untuk ikut ambil bagian dalam acara ini. Orang yang mengidap epilepsi harus mencari nasihat dari dokter mereka jika mereka ingin bergabung.
Rabu, 06 Januari 2010
Minggu, 29 November 2009 | 15:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sudah dua kali dalam enam bulan ini, Burhanuddin harus mengganti kacamata. Bukan karena bertambah tebal-minusnya, melainkan lensanya pecah tertindih tubuhnya di tempat tidur. Pegawai swasta di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, ini biasa membaca buku. Jika mulai mengantuk, Burhan meletakkan buku dan kacamatanya di meja kerja di ujung ruang tidur. Tapi tak jarang dia terlelap saat masih berkacamata dan mendekap buku. Sampai kemudian kacamatanya tertindih tubuhnya sendiri.
Agar "kecelakaan" tak terus terjadi, Murfi'ah, istri Burhan, meletakkan nakas atau meja kecil berukuran 40 x 40 sentimeter di samping tempat tidurnya. Dengan adanya nakas, Burhan tak perlu melangkah ke meja kerjanya untuk meletakkan kacamata dan buku. Kebetulan warna nakas itu senada dengan tempat tidur, "Cokelat kayu jati berukir," kata Burhan, Kamis lalu.
Nakas (berasal dari bahasa Belanda) berarti lemari yang berada di dekat perabot utama dan merupakan pelengkap pasangan furnitur. Anggota Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Dwi Gawan Islandhi, mengatakan nakas berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan barang-barang, seperti lampu baca, buku, atau barang apa pun, yang membuat kita tidak harus turun dari tempat tidur.
Ukuran nakas biasanya tidak terlalu lebar, sekitar 60 x 60 cm, atau lebih kecil lagi untuk ruang terbatas. Nakas biasanya dilengkapi laci atau tempat penyimpan di bagian bawahnya.
Perabot pelengkap ini tidak hanya bisa diletakkan di samping tempat tidur. Ia juga bisa diletakkan di atas tempat tidur atau di bagian belakang kepala tempat tidur. "Bisa menyatu atau terpisah dari tempat tidur," kata Dwi.
Perabot multifungsi itu pun bisa diletakkan di ruang lain, seperti ruang tamu. Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk kotak lemari. Ada juga yang hanya berupa rak, segitiga, bulat, bahkan piramida. Modelnya pun aneka rupa, dari klasik sampai kontemporer, modern hingga minimalis. Harganya dari Rp 700 ribu hingga tak terbatas.
Meski hanya untuk meletakkan barang-barang kecil, nakas mempengaruhi estetika sebuah ruang. Sehingga dalam pemilihan, menurut Dwi, harus disesuaikan dengan tema ruangan. Untuk ruangan bertema minimalis, hendaknya dipilih nakas bertema minimalis.
Memang tidak ada aturan baku. Bahkan, asalkan pandai memadu-padankan meski tidak satu tema, nakas dengan tema berbeda dari ruang tidur tidak "merusak pemandangan". "Tapi lebih bagus kalau pemilihan nakas disesuaikan dengan tema ruangan," kata Dwi, Kamis lalu, di kantor HDII di Slipi, Jakarta.
Selain tema, warna harus diperhatikan. Nakas di ruang tidur orang dewasa sebaiknya sama warnanya dengan tempat tidur, misalnya cokelat. Bentuk barang boleh berbeda. Sedangkan untuk kamar anak, tema barang sebaiknya senada, tapi warnanya boleh berbeda-beda dengan pilihan warna-warna cerah.
Agar tampil cantik, di atas nakas bisa diletakkan side lamp, yang bisa menjadi titik sentral dalam pencahayaan, sehingga di malam hari akan memunculkan kesan eksotik. Pilihan lainnya adalah vas bunga yang artifisial, bunga potong, atau tanaman hias berukuran kecil.
Sabtu, 07 November 2009
Pada tahun 2000, tiga pemain besar industri otomotif di Amerika, General Motors (GM), Chrysler, dan Ford melakukan eksperimen besar. Apa itu? Meluncurkan platform supply chain berbasis internet untuk para partisipan di industri. Platform tersebut dinamakan Covisint yang artinya Collaboration, Vision, dan Integration. Dari namanya memang sangat terlihat bahwa secara filosofis memang ia didesain sebagai platform untuk berkolaborasi, yang visioner, dan saling terintegrasi.
Visi awal dari platform ini adalah untuk membuat sebuah pasar online terbesar di dunia, dimana OEM (original equipment manufacturers), basis supply mereka (supplier dan sub-supplier) dan penyedia jasa logistik dapat melakukan segala proses mereka lewat online. Jadi dengan adanya platform ini, perusahaan otomotif terlayani lewat berbagai aplikasi yang akan memudahkan proses sourcing, lelang, logistik, dan hal lainnya terkait dengan pengelolaan supply chain. Di sana adalah gudangnya katalog untuk supplier, acara lelang yang terkait dengan industri, quote management untuk para partisipan di industri yang ingin menjual mesin lama, dan lain sebagainya.
Di rencana awalnya, platform ini diharapkan pula dapat menghemat biaya supply chain sebesar 1.064 dollar AS per kendaraan untuk industri otomotif. Maka tak heran kalau ketiga raksasa dunia otomotif ini kemudian diikuti oleh beberapa pemain lain dari luar Amerika seperti Renault dan Nissan yang masuk ke dalam Covisint. Selain penekanan biaya, jalur komunikasi antar partisipan di supply chain juga tentunya berpotensi untuk menurun dari segi keruwetannya.
Setelah sempat tertunda karena harus berurusan dengan Federal Trade Commission, Covisint akhirnya diluncurkan pada akhir Desember 2000 sebagai entitas komersial. Di tahun 2001, ia mencatat rekor sebagai tempat lelang terbesar di dunia online ketika sempat membukukan transaksi 4 miliar dollar AS dalam waktu kurang dari empat hari. Di tahun 2002, dibuat pula portal untuk sub-supplier, yang pada akhirnya diharapkan untuk dapat menarik 5000 sub-supplier yang akan mendapatkan lebih dari 80 aplikasi terkait dengan aktivitas supply chain.
Langkah kolaboratif yang berbasis konsorsium industri ini kemudian diikuti pula dengan industri lain. Contohnya di industri kesehatan, para pemain seperti Johnson & Johnson, General Electric (GE) Medical Systems, Baxter Healthcare, Abbott Laboratories, dan Medtronic juga melakukan hal yang sama dengan membuat GHX, sebuah platform online yang terbuka, netral untuk digunakan sebagai electronic trading exchange, guna memfasilitasi terwujudnya transfer informasi, uang, barang dan jasa secara real time di industri kesehatan. Dalam dua minggu setelah diluncurkan, pemain lain berbondong-bondong ikut masuk ke platform ini.
Seperti yang dikatakan oleh seorang petinggi di J&J, motivasi dari para pemain untuk berkolaborasi di dalam platform ini adalah karena mereka semua sedang menghadapi tekanan untuk memecahkan solusi terkait masalah efisiensi dan penekanan biaya. Karena dengan adanya platform seperti ini, proses supply chain dapat terkelola dengan baik dan secara dramatis dapat menurunkan biaya bisnis. Dan bukan itu saja, mereka pada akhirnya sadar bahwa platform untuk information sharing seperti ini dapat membuat para pemain di industri berkolaborasi untuk mendefiniskan standar baru terkait dunia kesehatan yang mana dapat menekan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.
Di hotel industri, pemain seperti Marriott, Hyatt, dan beberapa lainnya juga membuat konsorsium serupa untuk membuat platform yang dinamakan Avendra. Boeing juga melakukan platform e-marketplace serupa yang dinamakan Exostar. Di dunia FMCG, Procter & Gamble, dengan Sara Lee, Coca Cola dan beberapa yang lain juga membuat platform bernama 1SYNC Transora, yang diposisikan sebagai komunitas kolaboratif antar pemain dengan para basis supply di dunia online.
Lantas bagaimana ceritanya dengan platform-platform ini sekarang? Satu yang menarik untuk kita lihat adalah perbandingan antara Covisint dan GHX. Pada tahun 2004, investasi sebesar 500 juta dollar AS yang dilakukan oleh ketiga pemain industri otomotif ini belum juga menghasilkan uang. Ketika itu juga dikabarkan bahwa ketiga perusahaan yang mendirikannya telah mengabaikan langkahnya untuk melakukan e-supply chain lewat kolaborasi terbuka seperti ini. Hanya tiga sampai lima persen dari semua transaksi yang terkait dengan supply chain dilakukan lewat platform ini, sedangkan selebihnya dilakukan secara tradisional. Covisint lantas dijual ke Compuware dengan nilai jauh lebih murah dibanding yang diharapkan oleh ketiga perusahaan yang mendirikannya.
Beda halnya dengan GHX. Tidak perlu menunggu lama, platform ini berhasil untuk memberikan jalan bagi para pemain di industri untuk mengakses basis supply yang kalau ditotal lebih dari 90 persen dari volume transaksi di dalam industri kesehatan. GHX hanya perlu dua tahun untuk menjadi pasar industri kesehatan berbasis internet yang sangat dominan, bahkan satu-satunya konsorsium industri yang dimiliki langsung oleh partisipan yang merepresentasikan semua pemain besar, mulai dari rumah sakit, supplier, distributor, broker, sampai perusahaan logistik.
Pelajaran Berharga Bagi New Wave Marketer
Di era New Wave, process adalah kolaborasi. Proses yang terkait dengan penciptaan nilai dilakukan bukan lagi sekedar mengkoordinir segala sesuatu yang berhubungan dengan quality, cost, and delivery. Lebih dari itu, era New Wave adalah era yang horizontal di mana segala proses yang ada di internal (antar departemen) dan melibatkan pihak eksternal, harus dilakukan secara kolaborasi.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, teknologi memang memungkinkan bahwa kolaborasi yang sifatnya horizontal itu terjadi. Contohnya seperti lewat pembuatan platform-platform yang diceritakan di atas yang mengintegrasikan, mengkonek, dan mensinkronkan perusahaan-perusahaan yang berbeda, supplier, manufacturer, distributor, dan end-customer. Dengan masuknya perusahaan tersebut ke dalam platform seperti ini, pada akhirnya mereka dituntut untuk terbuka, saling berbagi informasi, dan menjalankan prinsip kemitraan.
Seperti yang dikatakan oleh Tom Stallkamp, bekas Purchasing Chief di Chrysler, di dalam bukunya “A Better Way To Do Business: Moving From Conflict To Collaboration,” kasus Covisint bisa dibilang gagal karena pada dasarnya tidak ada komitmen yang dalam dari para OEM untuk melakukan proses secara kolaboratif. Bagi para supplier dan sub-supplier yang tergabung, langkah dari para OEM dalam membuat platform seperti ini pada akhirnya hanyalah sesuatu yang semata bersifat adversarial commerce. Atmosfer yang diciptakan adalah bersifat sangat vertikal karena pada akhirnya yang memegang kendali tetap OEM.
Melakukan kolaborasi memang tidak mudah. Jangankan kolaborasi dengan perusahaan lain, membudayakan kolaborasi antar departemen di dalam internal perusahaan pun sering menjadi kendala yang memusingkan bagi para atasan di perusahaan. Patut sekali disayangkan padahal ketika praktek proses yang kolaboratif dapat terkelola secara baik, pastinya berbagai keuntungan akan didapati. Dan tentunya ini bukan saja konsep yang bagus secara teori, namun buktinya dipraktekkan oleh segenap perusahaan, bahkan di beberapa konsorsium industri seperti di dunia kesehatan lewat portal GHX di atas.
Apa yang dilakukan oleh pemain industri otomotif Amerika lewat Covisint memang sangat visioner, hanya saja praktek dan implementasi masih sangat vertikal, di mana mereka pula tidak ingin untuk melepaskan mental berkuasa sebagai raksasa industri. Mungkin itu pulalah salah satu alasan kenapa industri otomotif di sana barusan ini hancur
Minggu, 01 November 2009
Dari Ruang Privat Para Tokoh
Agus Ringgo sedang tertidur di atas kasur empuknya. Bantal dan selimut berhamburan tak teratur. Meski matanya terpejam, raut mukanya "nakal". Tidur telentang, tetapi kedua tangannya ia masukkan ke dalam celana jins. Persis, seolah menutupi kemaluannya.
Ringgo ditelanjangi oleh Jerry Aurum, fotografer muda berbakat. Itulah salah satu karyanya dalam pameran tunggal fotografi "In My Room", di Main Atrium-Senayan City, yang berlangsung pada 24 Oktober hingga 1 November 2009. Jerry ingin menguliti sisi pribadi Ringgo bersama 95 tokoh publik lainnya melalui setting tempat pribadi.
Jerry lahir di Medan pada 1976. Ia memulai karier di dunia fotografi sejak umur 24 tahun. Pria bermata sipit ini menuntaskan studinya di Fakultas Desain Komunikasi Visual ITB selama empat bulan dengan prestasi cum laude.
Saat memotret, Jerry sempat heran dengan isi ruang tidur Ringgo. Pasalnya, kamar itu hanya ada tempat tidur dan jendela dengan kelambunya. Mereka berdua terbengong, mencari pose yang menarik untuk diambil. "Nggak ada lemari atau ornamen apa pun. Sempat bingung" ujar Jerry. Alhasil, bernuansa hitam-putih, jepretan itu tak membosankan, tapi justru membuat senyum tersungging.
Bukan yang pertama bagi Jerry mengadakan pameran tunggal semacam ini. Pada 2006, pria yang terobsesi mengabadikan perang dengan lensanya ini pernah mengadakan pameran tunggalnya di gedung Ministry of Information Communications and Arts di Singapura.
Bertajuk "Femalography", subyek yang ia pilih adalah wanita. Jerry ingin "bermain" dan lepas dari sekadar mengambil momen perempuan cantik. Maka, ia betul-betul tampil konseptual. Semua foto digarap dengan sangat teliti dan terkonsep.
Namun, tak demikian dengan "In My Room". Pada pameran kali ini Jerry seolah ingin keluar dari ruang yang selama ini membatasinya. Minim konsep. "Waktunya bekerja tanpa teknik," katanya. Ide datang saat ia bertemu dengan model dan perangkatnya (setting tempat dan properti). Tanpa obrolan konsep, tanpa survei lokasi, bahkan hampir semua tanpa lighting tambahan.
Tempat pribadi adalah tempat yang sangat mewakili karakter diri. Jerry tak hanya mengambil kamar tidur, tetapi tak sedikit setting tempat diambil di ruang pribadi sang model.
Lihat saja karya Jerry pada Eross Djarot. Politikus sekaligus seniman itu sedang berpose di satu sudut studio mininya. Ia sedang memainkan gitar, sementara di belakangnya penuh dengan perangkat elektronik audio.
Beda dengan Sujiwo Tejo. Meski sama-sama seniman, justru bukan di studio ia berlaga. Dengan kursi singgasana kayu dengan bantalan hijau ia memegang biola, lalu berpose seperti raja. Seniman yang tak lagi berambut gondrong ini memakai kain jarik dan bertelanjang dada. Percampuran dua kultur budaya yang sebetulnya sangat elegan ditangkap oleh lensa. Setiap karya tanpa judul. "Saya tidak memberi batasan pada publik untuk berapresiasi," kata Jerry.
Ia mempersiapkan momen ini selama dua tahun. Meleset jauh dari yang sebelumnya ia perkirakan, tiga bulan. Transfer ide dan lobby kepada model adalah faktor tersulit dalam mempersiapkan bahan. "Ada kepercayaan besar terlibat di sini. Ketika para tokoh ternama dengan sukarela membiarkan saya berkarya dalam ruang yang mereka anggap paling pribadi," ujarnya. Ia bercerita bagaimana harus memutar otak dan menghimpun energi untuk mengarahkan gaya Martha Tilaar di ruang tidurnya.
Sebagai fotografer komersial yang selalu berkutat dengan konsep dan detail, ide Jerry boleh dikatakan menarik. Namun, ide semacam ini tidak baru dan tidak istimewa di ranah jurnalistik. Hampir tiap hari fotografer dunia jurnalistik, terutama misalnya yang bekerja di majalah berproses seperti Jerry. Menghubungi sumber, meyakinkan sumber untuk dipotret, dan mendapat ide spontan untuk pemotretan di lokasi. Ada kalanya tantangan lebih sulit, karena tokoh-tokoh yang dikejar untuk difoto adalah tokoh penting yang kadang mengelak untuk publikasi atau difoto "aneh-aneh".
Pameran ini dibarengi dengan peluncuran buku dengan judul yang sama, In My Room. Buku ini diterbitkan dalam format horizontal dengan jumlah halaman lebih dari 200.
Masih banyak nama berderet yang ditangkap oleh lensa Jerry. Sederet artis seperti Dian Sastrowardoyo, Happy Salma, Rachel Maryam, Nirina Zubir, bahkan olahragawan Ade Rai berdesakan dalam kanvas. Mungkin Anda adalah salah satu penggemarnya. Bersiap terbahak, kagum, atau mencibir setelah melihat pose itu. Sila lihatlah, lalu Anda akan menyaksikan mereka dalam sisi paling personalnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

