Sabtu, 31 Oktober 2009
Cerita Putih Di Atas Lembaran Kain
TEMPO Interaktif, Jakarta Josephine Werratie Kowara, selalu punya cara ciamik dan menarik untuk memberikan penghargaan khusus terhadap aneka lembaran atau helaian kain. Melalui sentuhan tangan dingin pemilik Bin House itu, lembaran atau helaian kain menjadi daya pikat yang memberikan decakan rasa kagum atau perasaan bangga. Senin kemarin, bertempat di Sampoerna Strategic Square, di kawasan Sudirman, Jakarta, Obin -sapaanya, menggelar pameran kain yang sangat artistik berbarengan dengan peluncuran buku berjudul White on White. “Banyak orang menganggap putih seolah bukan warna. Namun saya justru ingin menciptakan putih dengan sentuhan yang berbeda, supaya putih dipakai dengan benar,” katanya di sela-sea acara tersebut.
Berolah kemampuan dalam hal kain mermang kelebihan sekaligus kepiawaiaan Obin. Pada Desember 2008 lalu di Bali, di sebuah acara konperensi tentang lingkungan hidup, wanita berambut panjang inipun memamerkan keindahan kain-kainnya yang dibentangkan dalam instalasi menarik. “Saya punya keprihatinan mendalam terhadap kain. Rasanya kok bangsa ini tidak mau jujur menganggap penting tentang kain yang semakin lama justru tergeser bahkan seolah tergerus,” pungkasnya bernada prihatin.
Dia sangat berharap, seharusnya semua perempuan Indonesia mengenakan kain. Tetapi lantaran ada anggapan memakai kain ribet, maka akhirnya semua orang jadi enggan dan tidak mau mengenakannya. Obinpun menuturkan teknik pembuatan kain yang ada di dunia, 90 persen justru berada di Indonesia.
Obin yang sudah membuat kain selama 32 tahun ini selalu mendapatkan imajinasi dan sensasi yang dia wujudkan dalam kain. Tidak heran pada pameran kali ini, Obin yang selalu menjuluki dirinya tukang kain, bukan perancang menggelar mahakarya yang luar biasa. Dengan mengangkat tema putih yang ia artikan cerita putih di atas lembaran atau helaian kain.
Lebih lanjut, ia menerankan pameran kali ini merupakan presentasi dari sebuah pekerjaan yang tersimpan rapi di sebuah kotak yang menyimpan barang berharga yang didedikasikan untuk mengulas dan mengekplorasi teknik kain kain putih di atas putih. Dikatakan dari tahun ke tahun Bin house secara konsisten memproduksi karya koleksi kain putih dengan teknik kreatif dan inovatif. “Saya menggunakan berbagai metoda antara lain gabungan dari sulam, teknik batik, tenun, hingga pewarnaan alami yang membuat kain tersebut sangat unik, kaya akan nunsa, lebih bercerita dan memiliki daya tarik tersendiri,” paparnya.
Instalasi kain pada pameran kali ini terinspirasi dari awan indah yang menghiasi langit. Sekitar tiga ratusan kain terbentang bak awan yang terkadang sporadis, kadang berkelompok, tebal dan tipis menghiasi langit.
"Saya telah jatuh cinta dengan kain Indonesia. Saya terpesona mengikuti jejak jalinan lungsi (benang vertikal) dan pakan (benang horizontal) yang konstruktif. Beragam warna dan motif dari berbagai budaya dan daerah di Indonesia yang diciptakan dengan teknik warisan leluhur dan segala misterius di baliknya hampir dilupakan oleh bangsa kita," ungkapnya seperti tertulis dalam kutipan di buku White on White.
Minggu, 11 Oktober 2009
Wow, Burung Angsa Dari Sampah Bungkus Kopi
CIMAHI, KOMPAS.com - Sebagian besar peminum kopi mungkin akan membuang wadahnya begitu selesai memindahkan isinya ke dalam cangkir atau gelas.
Tapi, bagi orang kreatif, bungkus kopi itu mungkin lebih berharga dibandingkan dengan isinya. Bahan yang sekilas tampak tak berguna itu bisa juga menjadi bahan untuk hasil karya berupa hiasan di rumah atau karya lain yang indah.
Itulah yang dilakukan Oom Rosliawati, warga Jalan Encep Kartawirya, Citeureup, Cimahi Utara. Di usianya yang sudah mencapai 59 tahun, ia masih terus mengembangkan karyanya dengan bahan bungkus kopi.
Lebih dari 20 model sudah diciptakannya. Mulai model tas tangan yang biasa digunakan sebagai wadah kosmetik dan keperluan perempuan, wadah buah, dompet, sarung telepon seluler, hingga vas bunga.
Namun, yang paling menarik adalah model angsa yang dipajang di rak televisi rumahnya. Model itu menghabiskan 1.827 bungkus kopi dan dikerjakan selama dua pekan.
"Angsa itu bisa mengambang di atas air karena saya beri dandang plastik di bawahnya," ujar istri dari Anang Hendi (61).
Menurut Oom, satu karya angsanya pernah dibeli istri Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf, Sandy Dede Yusuf, pada suatu pameran. Beberapa karyanya dipajang di ruang tengah rumahnya.
Saat ini Oom sedang mengerjakan topi koboi dari bungkus kopi untuk dipajang pada pameran ulang tahun Kota Cimahi, Juni mendatang.
Perempuan yang juga Ketua RT 05 Kampung Sukareja ini mengaku, karya ini berawal dari keprihatinannya saat sampah Leuwigajah tidak bisa digunakan lagi.
Oom sudah sejak kelas 6 SD suka melipat-lipat wadah bekas rokok. Setelah berhenti cukup lama, akhirnya setahun lalu, ibu tiga anak ini memulai kembali hobinya untuk melipat-lipat bungkus kopi yang sudah tidak terpakai. Bahkan, kertas koran pun dijadikan rak buku.
"Saya tidak biasa mematok harganya. Terkadang sungkan untuk membuka harga karena hanya terbuat dari bungkus kopi. Biar konsumen saja, mau beli berapa saja silakan," ujarnya.
Demi mempercepat waktu pembuatan, ia dibantu tiga ibu-ibu tetangganya. "Sebenarnya pengen buka galeri di depan rumah, tetapi saya butuh bantuan banyak ibu-ibu," jelasnya. (agung yulianto wibowo)
Waspadai Gempa Mentawai, Ini Baru Pemicunya
Kamis, 1 Oktober 2009 | 10:11 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Gempa 7,6 SR yang berpusat di barat Padang, Rabu (30/9), dinilai bukan gempa utama dalam siklus 200 tahunan yang selama ini diwaspadai di zona utama, yakni segmen Mentawai. Alasannya, gempa tidak berpusat di zona subduksi, namun di patahan yang ada di sekitarnya.
"Secara umum, gempa ini akan membuat segmen subduksi menjadi lebih rawan. (Sebagai gambaran saja) Kalau seharusnya gempa utama terjadi 10 tahun lagi, mungkin bisa jadi 5 tahun lagi," kata Dr Danny Hilman Natawidjaya, pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/10) pagi.
Menurut Danny, gempa yang terjadi di Padang tersebut tidak mengurangi potensi pelepasan energi di segmen Mentawai, tapi malah bisa memicu pelepasan energi lebih cepat. "Malah membuat zona utama lebih tegang karena 'dipukul' dari samping," ujarnya.
Danny mengatakan, potensi pelepasan energi di segmen Mentawai sebenarnya sudah berkurang, yakni saat terjadi gempa Bengkulu pada 12 September 2007. Gempa tersebut berpusat di kantung 'energi' yang sama dan mengurangi sekitar sepertiganya. Ia mengatakan, pelepasan energi di zona tersebut sebenarnya justru diharapkan sedikit demi sedikit.
Sejarah mencatat, gempa yang berpusat di sana pernah terjadi tahun 1650 dan 1833 dan menimbulkan tsunami yang diperkirakan sampai setinggi 10 meter di Padang. Menurut Danny, saat ini segmen Mentawai sudah memasuki siklus 200 tahunan tersebut. Meski demikian, sampai saat ini belum ada teknologi dan belum ada seorang pun yang bisa memastikan kapan pastinya gempa tersebut terjadi.
Jakarta Tidak Mempunyai Episentrum Gempa
Selasa, 6 Oktober 2009 | 22:22 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi menjadi episentrum atau pusat gempa. Namun, kewaspadaan terhadap dampak gempa di sekitarnya tetap harus diwaspadai.
"Jakarta dalam sejarah kegempaan Jawa tidak mempunyai episentrum gempa. Tetapi Jakarta terpengaruh oleh gempa yang terjadi di Jawa, seperti gempa Pangandaran," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Hery Harjono dalam jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (6/10).
Hery mengatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi pusat gempa karena posisi Jakarta tidak berada pada suatu patahan lempeng bumi yang aktif. Meski tidak berpotensi menjadi pusat gempa, Jakarta akan terpengaruh oleh gempa di Jawa sehingga konstruksi infrastruktur dan bangunan juga harus mengikuti aturan tahan gempa.
"Tetapi karena Jakarta banyak terdapat gedung-gedung tinggi, harus dipersiapkan kesiapsiagaan dan antisipasi bencana gempa," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Hery menjelaskan dan memprediksikan kemungkinan gempa yang bakal terjadi di daerah Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Tiga daerah tersebut, kata Hery, mempunyai potensi tenaga dari pergeseran lempeng bumi yang belum terkurangi oleh gempa-gempa sebelumnya, seperti gempa Sumatera Barat dan gempa di Sungai Penuh, Jambi.
"Kita bukan menakut-nakuti masyarakat. Kita mengemukakan ini agar masyarakat sadar dan bersiap untuk menghadapi gempa," katanya.
Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Prof Jan Sopaheluwakan mengatakan bahwa kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana seperti gempa perlu terus ditingkatkan karena potensi gempa tetap akan ada.
"Kita harus terus mengupayakan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa karena potensi bencana akan terus terjadi," katanya.
Kamis, 08 Oktober 2009
"Weh Porak", Primadona Baru di Bumi Nanggroe
Selasa, 6 Oktober 2009 | 07:54 WIB
BANDA ACEH, KOMPAS.com - "Weh porak (air panas)" di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, menjadi objek wisata primadona masyarakat sejumlah daerah sekitar wilayah sentra produksi kopi Arabika itu seperti Aceh Tengah, Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Hampir setiap hari libur seperti hari raya Idul Fitri 1430 Hijriyah, masyarakat berbondong-bondong mengunjungi objek wisata yang memiliki kolam pemandian air panas tersebut. Mereka datang menikmati panasnya air yang bersumber dari Burni Telong. Sumber air panas yang berada di jalan negara Bireuen-Takengon (ibukota kabupaten Aceh Tengah).
Objek dan daya tarik wisata sumber air panas (dalam bahasa Gayo disebut weh pesam) tersebut berada di Simpang Balik atau sekitar 80 kilometer dari Kabupaten Bireuen. Lokasinya hanya beberapa meter dari jalan negara menuju Kabupaten Aceh Tengah.
Masyarakat yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh itu ingin menikmati hangatnya air gunung Burni Telong kabupaten pemekaran dari Aceh Tengah tersebut. Air panas yang hangat kuku itu membuat pengunjung betah karena udara kawasan sejuk. "Kalau musim libur tidak ada tempat parkir karena ramainya warga yang datang," kata seorang penduduk setempat, Aman Syukri.
Kini kolam pemandian air panas ini sudah menjadi objek primadona masyarakat. Air dari dalam bumi di tempat ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. "Masyarakat yang datang dari berbagai kabupaten pesisir itu lazimnya mandi karena dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, kudis, panu dan penyakit kulit lainnya. Ini bisa jadi karena itu tergantung pada orang yang merasakannya," katanya.
Pengunjung yang mendatangi sumber air panas itu dipungut biaya tiket masuk Rp 2.000 per orang, baik anak-anak maupun dewasa dan mereka bisa mandi sepuasnya. "Biaya yang dipungut di objek wisata itu sangat murah, terjangkau bagi siapapun yang berkunjung ke lokasi tersebut. Harga tiket seperti itu menjadi salah satu faktor masyarakat banyak berkunjung ke objek wisata tersebut," ujar Aman.
Ketika Turis Asing Kepincut Besemah
Kamis, 8 Oktober 2009 | 17:05 WIB
PAGAR ALAM, KOMPAS.com — Indonesia adalah negara kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya terhadap aneka budaya dan panorama alamnya. Namun, banyak keindahan alam dan keunikan tradisi Indonesia yang belum terpublikasikan secara luas ke dunia internasional. Meski begitu, toh ada juga wisatawan-wisatawan mancanegara yang memiliki "penglihatan" tajam dan kepincut dengan Indonesia.
Bradley J McDonell, seorang warga negara Amerika Serikat, jatuh cinta pada Pagar Alam. Ia sengaja datang ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel), untuk mempelajari bahasa Besemah yang digunakan masyarakat setempat.
"Memang bukan hanya dari segi bahasa yang menarik untuk dipelajari melainkan juga seni budaya Besemah," kata Bradley J McDonell, di Pagar Alam, Rabu (7/10).
Ia mengatakan, memang cukup jauh perbedaan antara adat istiadat warga Indonesia, terutama suku Besemah, dengan kehidupan di Negeri Paman Sam, terutama terkait hubungan kekerabatan.
"Namun kalau di lingkup Suku Besemah, semua jalinan keluarga, meskipun hubungan darahnya sudah jauh, masih tetap terjalin dengan baik. Hal ini terbukti dari setiap ada acara syukuran yang lebih banyak dilakukan karena hubungan kekerabatan," kata dia.
Menurut dia, daerah Besemah memiliki kekayaan yang cukup banyak, bukan hanya dari sektor pariwisata alam, melainkan juga budaya, sejarah, dan seni. "Meski demikian, hal ini masih perlu digali dan dilestarikan. Kalau tidak, akan semakin tergilas dengan budaya modern," ungkap dia lagi.
Menurut dia, sekarang ini sudah sulit untuk bisa menemukan orang yang paham dan mengetahui betul tata bahasa Besemah, termasuk seni budaya yang banyak dilakukan pada zaman dahulu.
"Di daerah Besemah banyak dikenal seni tutur, guritan, berejong, dan gitar tunggal, tapi saat ini sudah mulai tergilas dengan musik modern seperti organ tunggal dan kesenian lainnya," ungkap dia yang dalam beberapa hari berada di Pagar Alam sudah fasih berbicara bahasa Besemah.
Dalam memahami budaya Besemah, yang paling penting adalah mengetahui bahasa dan mampu memahami tata bahasa yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Sementara itu, menurut budayawan Besemah, Satarudin, memang banyak seni budaya dan adat asli Besemah yang sudah hilang atau ditinggalkan. Menurut dia, selain kalah bersaing dengan budaya modern, orangtua yang mengajarkan budaya dan adat istiadat kepada anak-anaknya juga sudah jarang sekali ditemui.
Pantas Saja Harga Tokek Bisa Selangit!
umat, 25 September 2009 | 20:35 WIB
KOMPAS.com — Dengan iming-iming akan mendapatkan keuntungan besar, seorang pemuda bernama Firdaus (21) dalam satu tahun terakhir telah menggeluti bisnis jual beli binatang yang kabarnya dapat menyembuhkan HIV/AIDS itu.
"Saya sudah 1 tahun bisnis tokek. Awalnya saya kenal sama seseorang bernama Mat Nur, lalu kita diskusi bagaimana caranya dapat duit banyak. Terus saya dengar tokek harganya mahal, ya udah sejak itu saya cari tokek dan saya jual-beliin deh," kata Firdaus saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Kawasan Cipete Selatan, Jakarta, Jumat (25/9).
Untuk memelihara tokek-tokek itu, Firdaus mengaku tidak pernah mengalami kesulitan. Pasalnya, memelihara tokek, menurutnya, tidaklah sulit. Selain itu, ongkos makan juga tidak mahal. "Ternak tokek sebenarnya gampang. Satu minggu kita cuma kasih dia makan jangkrik seharga Rp 5.000 sebanyak dua kali. Artinya satu tokek seminggu biaya makannya Rp 10.000," katanya.
Jumlah tokek yang dimiliki Firdaus saat ini delapan ekor. Dari delapan tokek yang dimilikinya, berat maksimal adalah 2 ons, sedangkan yang paling ringan 1 ons. Meski telah 1 tahun berbisnis tokek, Firdaus mengaku belum pernah merasakan menjual tokek dengan harga yang fantastis. Harga tertinggi yang pernah didapatkan hanya Rp 2 juta. Ini karena tokek yang dimilikinya hanya memiliki berat maksimal 2 ons.
"Susah cari tokek yang besar. Tokek besar banyaknya di daerah, kalau di Jakarta jarang. Paling ada kecil-kecil," katanya. Harga tokek bervariasi. Sementara itu, mengenai harga jual tokek di pasaran, menurut pria bujang ini, tergantung berat tokek itu sendiri. Semakin besar atau berat tokek, harganya makin mahal.
"Kalau tokek ukuran 1 ons di pasaran bawah (bukan harga dari eksportir) Rp 100.000, kalau tokek 1,5 ons Rp 200.000, tokek ukuran 2 ons Rp 500.000 sampai Rp 2 juta. Tokek 2,5 ons harganya antara Rp 5 juta dan Rp 30 juta," paparnya.
Menurutnya, harga tokek mulai beranjak tinggi jika memiliki berat di atas 3 ons. Harga tokek dengan berat 3 ons sendiri, menurutnya, memiliki harga dari Rp 30 juta hingga Rp 100 juta-an, sedangkan tokek dengan berat 3,5 sampai 4 ons biasa dihargai dengan Rp 100 juga hingga Rp 800 juta. "Harganya bervariasi karena tiap bos beda harganya," ujarnya.
Binatang sensitif
Lebih lanjut, Firdaus mengatakan, tokek merupakan jenis binatang yang cukup sensitif. Reptil yang masuk golongan cicak besar, suku Gekkonidae, ini gampang stres.
"Kalau dibawa pindah dari satu tempat ke tempat lain akan kelihatan. Pernah teman saya bawa dari Padang ke Jakarta buat dijual. Dari Padang beratnya 7 ons. Eh pas sampai Jakarta beratnya turun jadi 2 ons. Ternyata pas ditanya ke orang yang ngerti, itu gara-gara stres. Malah yang lebih parah lagi, teman saya bawa (tokek) dari Tanah Abang (Jakarta Pusat) ke Pasar Minggu. Eh pas sampai tujuan tokeknya mati. Akhirnya gagal dijual," ungkapnya.
Menurut Firdaus, tokek adalah binatang yang sejak dulu dikenal dapat menjadi obat. Daging tokek, menurutnya, dipercaya banyak orang merupakan obat gatal. Begitu juga dengan darah dan empedu tokek.
"Konon, empedu tokek yang sudah jadi kristal bisa jadi obat apa aja. Itu biasanya kalau tokeknya sudah 4 ons beratnya. Terus, tokek juga katanya bisa jadi obat HIV/AIDS, tapi enggak tahu apanya. Ada yang bilang darahnya, dagingnya, lidahnya," ujarnya.
Langganan:
Komentar (Atom)
