Sabtu, 07 November 2009

Pada tahun 2000, tiga pemain besar industri otomotif di Amerika, General Motors (GM), Chrysler, dan Ford melakukan eksperimen besar. Apa itu? Meluncurkan platform supply chain berbasis internet untuk para partisipan di industri. Platform tersebut dinamakan Covisint yang artinya Collaboration, Vision, dan Integration. Dari namanya memang sangat terlihat bahwa secara filosofis memang ia didesain sebagai platform untuk berkolaborasi, yang visioner, dan saling terintegrasi. Visi awal dari platform ini adalah untuk membuat sebuah pasar online terbesar di dunia, dimana OEM (original equipment manufacturers), basis supply mereka (supplier dan sub-supplier) dan penyedia jasa logistik dapat melakukan segala proses mereka lewat online. Jadi dengan adanya platform ini, perusahaan otomotif terlayani lewat berbagai aplikasi yang akan memudahkan proses sourcing, lelang, logistik, dan hal lainnya terkait dengan pengelolaan supply chain. Di sana adalah gudangnya katalog untuk supplier, acara lelang yang terkait dengan industri, quote management untuk para partisipan di industri yang ingin menjual mesin lama, dan lain sebagainya. Di rencana awalnya, platform ini diharapkan pula dapat menghemat biaya supply chain sebesar 1.064 dollar AS per kendaraan untuk industri otomotif. Maka tak heran kalau ketiga raksasa dunia otomotif ini kemudian diikuti oleh beberapa pemain lain dari luar Amerika seperti Renault dan Nissan yang masuk ke dalam Covisint. Selain penekanan biaya, jalur komunikasi antar partisipan di supply chain juga tentunya berpotensi untuk menurun dari segi keruwetannya. Setelah sempat tertunda karena harus berurusan dengan Federal Trade Commission, Covisint akhirnya diluncurkan pada akhir Desember 2000 sebagai entitas komersial. Di tahun 2001, ia mencatat rekor sebagai tempat lelang terbesar di dunia online ketika sempat membukukan transaksi 4 miliar dollar AS dalam waktu kurang dari empat hari. Di tahun 2002, dibuat pula portal untuk sub-supplier, yang pada akhirnya diharapkan untuk dapat menarik 5000 sub-supplier yang akan mendapatkan lebih dari 80 aplikasi terkait dengan aktivitas supply chain. Langkah kolaboratif yang berbasis konsorsium industri ini kemudian diikuti pula dengan industri lain. Contohnya di industri kesehatan, para pemain seperti Johnson & Johnson, General Electric (GE) Medical Systems, Baxter Healthcare, Abbott Laboratories, dan Medtronic juga melakukan hal yang sama dengan membuat GHX, sebuah platform online yang terbuka, netral untuk digunakan sebagai electronic trading exchange, guna memfasilitasi terwujudnya transfer informasi, uang, barang dan jasa secara real time di industri kesehatan. Dalam dua minggu setelah diluncurkan, pemain lain berbondong-bondong ikut masuk ke platform ini. Seperti yang dikatakan oleh seorang petinggi di J&J, motivasi dari para pemain untuk berkolaborasi di dalam platform ini adalah karena mereka semua sedang menghadapi tekanan untuk memecahkan solusi terkait masalah efisiensi dan penekanan biaya. Karena dengan adanya platform seperti ini, proses supply chain dapat terkelola dengan baik dan secara dramatis dapat menurunkan biaya bisnis. Dan bukan itu saja, mereka pada akhirnya sadar bahwa platform untuk information sharing seperti ini dapat membuat para pemain di industri berkolaborasi untuk mendefiniskan standar baru terkait dunia kesehatan yang mana dapat menekan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Di hotel industri, pemain seperti Marriott, Hyatt, dan beberapa lainnya juga membuat konsorsium serupa untuk membuat platform yang dinamakan Avendra. Boeing juga melakukan platform e-marketplace serupa yang dinamakan Exostar. Di dunia FMCG, Procter & Gamble, dengan Sara Lee, Coca Cola dan beberapa yang lain juga membuat platform bernama 1SYNC Transora, yang diposisikan sebagai komunitas kolaboratif antar pemain dengan para basis supply di dunia online. Lantas bagaimana ceritanya dengan platform-platform ini sekarang? Satu yang menarik untuk kita lihat adalah perbandingan antara Covisint dan GHX. Pada tahun 2004, investasi sebesar 500 juta dollar AS yang dilakukan oleh ketiga pemain industri otomotif ini belum juga menghasilkan uang. Ketika itu juga dikabarkan bahwa ketiga perusahaan yang mendirikannya telah mengabaikan langkahnya untuk melakukan e-supply chain lewat kolaborasi terbuka seperti ini. Hanya tiga sampai lima persen dari semua transaksi yang terkait dengan supply chain dilakukan lewat platform ini, sedangkan selebihnya dilakukan secara tradisional. Covisint lantas dijual ke Compuware dengan nilai jauh lebih murah dibanding yang diharapkan oleh ketiga perusahaan yang mendirikannya. Beda halnya dengan GHX. Tidak perlu menunggu lama, platform ini berhasil untuk memberikan jalan bagi para pemain di industri untuk mengakses basis supply yang kalau ditotal lebih dari 90 persen dari volume transaksi di dalam industri kesehatan. GHX hanya perlu dua tahun untuk menjadi pasar industri kesehatan berbasis internet yang sangat dominan, bahkan satu-satunya konsorsium industri yang dimiliki langsung oleh partisipan yang merepresentasikan semua pemain besar, mulai dari rumah sakit, supplier, distributor, broker, sampai perusahaan logistik. Pelajaran Berharga Bagi New Wave Marketer Di era New Wave, process adalah kolaborasi. Proses yang terkait dengan penciptaan nilai dilakukan bukan lagi sekedar mengkoordinir segala sesuatu yang berhubungan dengan quality, cost, and delivery. Lebih dari itu, era New Wave adalah era yang horizontal di mana segala proses yang ada di internal (antar departemen) dan melibatkan pihak eksternal, harus dilakukan secara kolaborasi. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, teknologi memang memungkinkan bahwa kolaborasi yang sifatnya horizontal itu terjadi. Contohnya seperti lewat pembuatan platform-platform yang diceritakan di atas yang mengintegrasikan, mengkonek, dan mensinkronkan perusahaan-perusahaan yang berbeda, supplier, manufacturer, distributor, dan end-customer. Dengan masuknya perusahaan tersebut ke dalam platform seperti ini, pada akhirnya mereka dituntut untuk terbuka, saling berbagi informasi, dan menjalankan prinsip kemitraan. Seperti yang dikatakan oleh Tom Stallkamp, bekas Purchasing Chief di Chrysler, di dalam bukunya “A Better Way To Do Business: Moving From Conflict To Collaboration,” kasus Covisint bisa dibilang gagal karena pada dasarnya tidak ada komitmen yang dalam dari para OEM untuk melakukan proses secara kolaboratif. Bagi para supplier dan sub-supplier yang tergabung, langkah dari para OEM dalam membuat platform seperti ini pada akhirnya hanyalah sesuatu yang semata bersifat adversarial commerce. Atmosfer yang diciptakan adalah bersifat sangat vertikal karena pada akhirnya yang memegang kendali tetap OEM. Melakukan kolaborasi memang tidak mudah. Jangankan kolaborasi dengan perusahaan lain, membudayakan kolaborasi antar departemen di dalam internal perusahaan pun sering menjadi kendala yang memusingkan bagi para atasan di perusahaan. Patut sekali disayangkan padahal ketika praktek proses yang kolaboratif dapat terkelola secara baik, pastinya berbagai keuntungan akan didapati. Dan tentunya ini bukan saja konsep yang bagus secara teori, namun buktinya dipraktekkan oleh segenap perusahaan, bahkan di beberapa konsorsium industri seperti di dunia kesehatan lewat portal GHX di atas. Apa yang dilakukan oleh pemain industri otomotif Amerika lewat Covisint memang sangat visioner, hanya saja praktek dan implementasi masih sangat vertikal, di mana mereka pula tidak ingin untuk melepaskan mental berkuasa sebagai raksasa industri. Mungkin itu pulalah salah satu alasan kenapa industri otomotif di sana barusan ini hancur

Minggu, 01 November 2009

Dari Ruang Privat Para Tokoh

Agus Ringgo sedang tertidur di atas kasur empuknya. Bantal dan selimut berhamburan tak teratur. Meski matanya terpejam, raut mukanya "nakal". Tidur telentang, tetapi kedua tangannya ia masukkan ke dalam celana jins. Persis, seolah menutupi kemaluannya. Ringgo ditelanjangi oleh Jerry Aurum, fotografer muda berbakat. Itulah salah satu karyanya dalam pameran tunggal fotografi "In My Room", di Main Atrium-Senayan City, yang berlangsung pada 24 Oktober hingga 1 November 2009. Jerry ingin menguliti sisi pribadi Ringgo bersama 95 tokoh publik lainnya melalui setting tempat pribadi. Jerry lahir di Medan pada 1976. Ia memulai karier di dunia fotografi sejak umur 24 tahun. Pria bermata sipit ini menuntaskan studinya di Fakultas Desain Komunikasi Visual ITB selama empat bulan dengan prestasi cum laude. Saat memotret, Jerry sempat heran dengan isi ruang tidur Ringgo. Pasalnya, kamar itu hanya ada tempat tidur dan jendela dengan kelambunya. Mereka berdua terbengong, mencari pose yang menarik untuk diambil. "Nggak ada lemari atau ornamen apa pun. Sempat bingung" ujar Jerry. Alhasil, bernuansa hitam-putih, jepretan itu tak membosankan, tapi justru membuat senyum tersungging. Bukan yang pertama bagi Jerry mengadakan pameran tunggal semacam ini. Pada 2006, pria yang terobsesi mengabadikan perang dengan lensanya ini pernah mengadakan pameran tunggalnya di gedung Ministry of Information Communications and Arts di Singapura. Bertajuk "Femalography", subyek yang ia pilih adalah wanita. Jerry ingin "bermain" dan lepas dari sekadar mengambil momen perempuan cantik. Maka, ia betul-betul tampil konseptual. Semua foto digarap dengan sangat teliti dan terkonsep. Namun, tak demikian dengan "In My Room". Pada pameran kali ini Jerry seolah ingin keluar dari ruang yang selama ini membatasinya. Minim konsep. "Waktunya bekerja tanpa teknik," katanya. Ide datang saat ia bertemu dengan model dan perangkatnya (setting tempat dan properti). Tanpa obrolan konsep, tanpa survei lokasi, bahkan hampir semua tanpa lighting tambahan. Tempat pribadi adalah tempat yang sangat mewakili karakter diri. Jerry tak hanya mengambil kamar tidur, tetapi tak sedikit setting tempat diambil di ruang pribadi sang model. Lihat saja karya Jerry pada Eross Djarot. Politikus sekaligus seniman itu sedang berpose di satu sudut studio mininya. Ia sedang memainkan gitar, sementara di belakangnya penuh dengan perangkat elektronik audio. Beda dengan Sujiwo Tejo. Meski sama-sama seniman, justru bukan di studio ia berlaga. Dengan kursi singgasana kayu dengan bantalan hijau ia memegang biola, lalu berpose seperti raja. Seniman yang tak lagi berambut gondrong ini memakai kain jarik dan bertelanjang dada. Percampuran dua kultur budaya yang sebetulnya sangat elegan ditangkap oleh lensa. Setiap karya tanpa judul. "Saya tidak memberi batasan pada publik untuk berapresiasi," kata Jerry. Ia mempersiapkan momen ini selama dua tahun. Meleset jauh dari yang sebelumnya ia perkirakan, tiga bulan. Transfer ide dan lobby kepada model adalah faktor tersulit dalam mempersiapkan bahan. "Ada kepercayaan besar terlibat di sini. Ketika para tokoh ternama dengan sukarela membiarkan saya berkarya dalam ruang yang mereka anggap paling pribadi," ujarnya. Ia bercerita bagaimana harus memutar otak dan menghimpun energi untuk mengarahkan gaya Martha Tilaar di ruang tidurnya. Sebagai fotografer komersial yang selalu berkutat dengan konsep dan detail, ide Jerry boleh dikatakan menarik. Namun, ide semacam ini tidak baru dan tidak istimewa di ranah jurnalistik. Hampir tiap hari fotografer dunia jurnalistik, terutama misalnya yang bekerja di majalah berproses seperti Jerry. Menghubungi sumber, meyakinkan sumber untuk dipotret, dan mendapat ide spontan untuk pemotretan di lokasi. Ada kalanya tantangan lebih sulit, karena tokoh-tokoh yang dikejar untuk difoto adalah tokoh penting yang kadang mengelak untuk publikasi atau difoto "aneh-aneh". Pameran ini dibarengi dengan peluncuran buku dengan judul yang sama, In My Room. Buku ini diterbitkan dalam format horizontal dengan jumlah halaman lebih dari 200. Masih banyak nama berderet yang ditangkap oleh lensa Jerry. Sederet artis seperti Dian Sastrowardoyo, Happy Salma, Rachel Maryam, Nirina Zubir, bahkan olahragawan Ade Rai berdesakan dalam kanvas. Mungkin Anda adalah salah satu penggemarnya. Bersiap terbahak, kagum, atau mencibir setelah melihat pose itu. Sila lihatlah, lalu Anda akan menyaksikan mereka dalam sisi paling personalnya.

Berburu Korek Unik di Rumah Korek Legendaris

Pesulap kondang Aldy Sungkar tak bisa lepas dari korek api kesayangannya. Sebagai pesulap, ia selalu butuh api karena api menarik bagi penonton. Korek favoritnya Zippo, yang diproduksi Amerika Serikat, yang juga digunakannya sehari-hari sebagai perokok. "Saya punya korek Zippo gambar kartu King, bisa mewakili identitas saya sebagai pesulap," ujar Aldy, Sabtu pekan lalu, di The Magic, gerai peralatan sulap miliknya. Aldy tak hanya menggandrungi pemantiknya. Saban pekan Aldy juga berbelanja minyak Zippo di gerai Lighter Pen Centre, toko penjual aneka rupa barang merek Zippo, favoritnya. Gerai ini berada di Jembatan La Piazza, yang menghubungkan gedung La Piazza dengan Mal Kelapa Gading. Bagi Aldy, minyak dan korek Zippo adalah yang terbaik. Apinya tidak bikin kotor, panasnya maksimal dibanding korek lainnya. "Untuk aktivitas di luar ruangan, Zippo paling efektif." Setali tiga uang, Anwar, sepupu Aldy, juga menggemari Zippo bergambar Harley Davidson miliknya, yang harganya Rp 1,7 juta. Zippo, kata Anwar, legendaris. Militer Amerika Serikat mengantongi korek Zippo ketika berperang. Untuk memutus tali parasut, menceburkan diri ke laut, kabur dari musuh, mereka menggunakan Zippo. "Apinya tidak mati meski diterpa angin sekencang apa pun." Kesenangan orang pada Zippo membuat Lighter Pen Center punya banyak pelanggan. Muhammad Taufik, 28 tahun, penjaga gerai Zippo Lighter Pen Center, yang sudah dua tahun menjaga gerai itu, mengatakan, selain Aldy Sungkar, pesulap Deddy Corbuzier merupakan pelanggan tetapnya. Beberapa pesohor lain yang pernah ke tokonya di antaranya penyanyi Derbi Romeo, Rendi Pangadila, Rama Michael, Ozi Syahputra, Polo "Srimulat", bahkan legenda humor Indro "Warkop". Menurut Taufik, tokonya memiliki stok korek Zippo lebih dari 500 buah. Semuanya langsung diimpor dan dijamin keasliannya. Taufik memastikan toko ini sama sekali tak menjual Zippo tiruan. "Tanda keaslian bisa dilihat dari ukiran pada bagian bawah korek," kata taufik sembari menyodorkan contoh korek Zippo dengan emblem legam bertulisan Dooms Day. Bagian bawah korek itu berukir tulisan "C Zippo 09 Bradford Made in USA". Huruf C menandakan korek itu dibuat Maret, sedangkan 09 adalah tahun pembuatan. Ada dua tipe korek ini: emblem dan biasa. Emblem berpelat, sedangkan yang biasa tanpa pelat. Sedangkan Zippo kuno biasanya diukir tahun pembuatannya dengan huruf Romawi. "Ada juga Zippo massal yang dicetak dalam jumlah jutaan, dan tipe yang sengaja dicetak terbatas, 10 ribu buah untuk seluruh dunia," ujar Taufik. Denny Romansyah, 24 tahun, rekan sejawat Taufik, mengatakan Zippo polos ada yang di-chrome, ada yang dove. Tipe polos chrome memiliki gambar yang berbeda tapi harganya seragam, Rp 400 ribu. Sedangkan yang dove berwarna seharga Rp 435 ribu, sedangkan yang termahal karena berhias batu dan permata harganya Rp 3 juta. Edisi terbatas minimal harganya Rp 1 juta. Zippo Emblem bergambar pesohor, seperti Elvis Presley, Marylin Monroe, James Dean, bersimbol Harley Davidson, Police, dan Playboy. "Yang paling laku gambar Jack Daniels," kata Denny. Harganya Rp 500 ribu hingga Rp 1,3 juta. Sedangkan edisi terbatas harganya Rp 1-3,75 juta. Toko ini tak punya stok edisi Romawi atau kuno. Chrome polos hitam harganya Rp 480 ribu, yang solid brush--yang luar-dalamnya dilapisi kuningan--harganya Rp 1 juta. Toko Zippo ini sudah ada di Kelapa Gading sejak 14 tahun lalu. Harry B.M., pemilik toko, membuka jaringan langsung dari Amerika. Untuk penjualan Zippo asli, kata Taufik, Harry merupakan satu-satunya pemegang lisensi penjualan korek Zippo di Indonesia. Selain membuka di La Piazza, cabangnya di Mal Artha Gading dan Denpasar, Bali. Toko ini menyediakan diskon 20 persen untuk korek seharga di atas Rp 800 ribu. Pelanggan juga diberi fasilitas gratis ukir nama dan gratis bungkus kado. Pengunjung juga bisa membeli cangkang atau mesinnya saja. Kalau korek rusak, toko ini memberikan fasilitas servis. "Semua barang Zippo selalu garansi seumur hidup," kata Denny. Selain menjual korek Zippo, gerai ini menjual benda-benda lain serba Zippo. Misalnya kapas, sumbu, batu, sarung, asbak saku, tabung, minyak, jam, hingga pisau merek Zippo. "Kami sebenarnya tak fanatik menjual Zippo saja. Ada korek merek Promise buatan Jepang atau St. Duppont buatan Prancis," kata Denny. Sebenarnya Zippo bukan yang paling bergengsi. "St. Duppont malah lebih bergengsi sebenarnya," kata Aldy.

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerita Putih Di Atas Lembaran Kain

TEMPO Interaktif, Jakarta Josephine Werratie Kowara, selalu punya cara ciamik dan menarik untuk memberikan penghargaan khusus terhadap aneka lembaran atau helaian kain. Melalui sentuhan tangan dingin pemilik Bin House itu, lembaran atau helaian kain menjadi daya pikat yang memberikan decakan rasa kagum atau perasaan bangga. Senin kemarin, bertempat di Sampoerna Strategic Square, di kawasan Sudirman, Jakarta, Obin -sapaanya, menggelar pameran kain yang sangat artistik berbarengan dengan peluncuran buku berjudul White on White. “Banyak orang menganggap putih seolah bukan warna. Namun saya justru ingin menciptakan putih dengan sentuhan yang berbeda, supaya putih dipakai dengan benar,” katanya di sela-sea acara tersebut. Berolah kemampuan dalam hal kain mermang kelebihan sekaligus kepiawaiaan Obin. Pada Desember 2008 lalu di Bali, di sebuah acara konperensi tentang lingkungan hidup, wanita berambut panjang inipun memamerkan keindahan kain-kainnya yang dibentangkan dalam instalasi menarik. “Saya punya keprihatinan mendalam terhadap kain. Rasanya kok bangsa ini tidak mau jujur menganggap penting tentang kain yang semakin lama justru tergeser bahkan seolah tergerus,” pungkasnya bernada prihatin. Dia sangat berharap, seharusnya semua perempuan Indonesia mengenakan kain. Tetapi lantaran ada anggapan memakai kain ribet, maka akhirnya semua orang jadi enggan dan tidak mau mengenakannya. Obinpun menuturkan teknik pembuatan kain yang ada di dunia, 90 persen justru berada di Indonesia. Obin yang sudah membuat kain selama 32 tahun ini selalu mendapatkan imajinasi dan sensasi yang dia wujudkan dalam kain. Tidak heran pada pameran kali ini, Obin yang selalu menjuluki dirinya tukang kain, bukan perancang menggelar mahakarya yang luar biasa. Dengan mengangkat tema putih yang ia artikan cerita putih di atas lembaran atau helaian kain. Lebih lanjut, ia menerankan pameran kali ini merupakan presentasi dari sebuah pekerjaan yang tersimpan rapi di sebuah kotak yang menyimpan barang berharga yang didedikasikan untuk mengulas dan mengekplorasi teknik kain kain putih di atas putih. Dikatakan dari tahun ke tahun Bin house secara konsisten memproduksi karya koleksi kain putih dengan teknik kreatif dan inovatif. “Saya menggunakan berbagai metoda antara lain gabungan dari sulam, teknik batik, tenun, hingga pewarnaan alami yang membuat kain tersebut sangat unik, kaya akan nunsa, lebih bercerita dan memiliki daya tarik tersendiri,” paparnya. Instalasi kain pada pameran kali ini terinspirasi dari awan indah yang menghiasi langit. Sekitar tiga ratusan kain terbentang bak awan yang terkadang sporadis, kadang berkelompok, tebal dan tipis menghiasi langit. "Saya telah jatuh cinta dengan kain Indonesia. Saya terpesona mengikuti jejak jalinan lungsi (benang vertikal) dan pakan (benang horizontal) yang konstruktif. Beragam warna dan motif dari berbagai budaya dan daerah di Indonesia yang diciptakan dengan teknik warisan leluhur dan segala misterius di baliknya hampir dilupakan oleh bangsa kita," ungkapnya seperti tertulis dalam kutipan di buku White on White.

Minggu, 11 Oktober 2009

Wow, Burung Angsa Dari Sampah Bungkus Kopi

CIMAHI, KOMPAS.com - Sebagian besar peminum kopi mungkin akan membuang wadahnya begitu selesai memindahkan isinya ke dalam cangkir atau gelas. Tapi, bagi orang kreatif, bungkus kopi itu mungkin lebih berharga dibandingkan dengan isinya. Bahan yang sekilas tampak tak berguna itu bisa juga menjadi bahan untuk hasil karya berupa hiasan di rumah atau karya lain yang indah. Itulah yang dilakukan Oom Rosliawati, warga Jalan Encep Kartawirya, Citeureup, Cimahi Utara. Di usianya yang sudah mencapai 59 tahun, ia masih terus mengembangkan karyanya dengan bahan bungkus kopi. Lebih dari 20 model sudah diciptakannya. Mulai model tas tangan yang biasa digunakan sebagai wadah kosmetik dan keperluan perempuan, wadah buah, dompet, sarung telepon seluler, hingga vas bunga. Namun, yang paling menarik adalah model angsa yang dipajang di rak televisi rumahnya. Model itu menghabiskan 1.827 bungkus kopi dan dikerjakan selama dua pekan. "Angsa itu bisa mengambang di atas air karena saya beri dandang plastik di bawahnya," ujar istri dari Anang Hendi (61). Menurut Oom, satu karya angsanya pernah dibeli istri Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf, Sandy Dede Yusuf, pada suatu pameran. Beberapa karyanya dipajang di ruang tengah rumahnya. Saat ini Oom sedang mengerjakan topi koboi dari bungkus kopi untuk dipajang pada pameran ulang tahun Kota Cimahi, Juni mendatang. Perempuan yang juga Ketua RT 05 Kampung Sukareja ini mengaku, karya ini berawal dari keprihatinannya saat sampah Leuwigajah tidak bisa digunakan lagi. Oom sudah sejak kelas 6 SD suka melipat-lipat wadah bekas rokok. Setelah berhenti cukup lama, akhirnya setahun lalu, ibu tiga anak ini memulai kembali hobinya untuk melipat-lipat bungkus kopi yang sudah tidak terpakai. Bahkan, kertas koran pun dijadikan rak buku. "Saya tidak biasa mematok harganya. Terkadang sungkan untuk membuka harga karena hanya terbuat dari bungkus kopi. Biar konsumen saja, mau beli berapa saja silakan," ujarnya. Demi mempercepat waktu pembuatan, ia dibantu tiga ibu-ibu tetangganya. "Sebenarnya pengen buka galeri di depan rumah, tetapi saya butuh bantuan banyak ibu-ibu," jelasnya. (agung yulianto wibowo)

Waspadai Gempa Mentawai, Ini Baru Pemicunya

Kamis, 1 Oktober 2009 | 10:11 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Gempa 7,6 SR yang berpusat di barat Padang, Rabu (30/9), dinilai bukan gempa utama dalam siklus 200 tahunan yang selama ini diwaspadai di zona utama, yakni segmen Mentawai. Alasannya, gempa tidak berpusat di zona subduksi, namun di patahan yang ada di sekitarnya. "Secara umum, gempa ini akan membuat segmen subduksi menjadi lebih rawan. (Sebagai gambaran saja) Kalau seharusnya gempa utama terjadi 10 tahun lagi, mungkin bisa jadi 5 tahun lagi," kata Dr Danny Hilman Natawidjaya, pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/10) pagi. Menurut Danny, gempa yang terjadi di Padang tersebut tidak mengurangi potensi pelepasan energi di segmen Mentawai, tapi malah bisa memicu pelepasan energi lebih cepat. "Malah membuat zona utama lebih tegang karena 'dipukul' dari samping," ujarnya. Danny mengatakan, potensi pelepasan energi di segmen Mentawai sebenarnya sudah berkurang, yakni saat terjadi gempa Bengkulu pada 12 September 2007. Gempa tersebut berpusat di kantung 'energi' yang sama dan mengurangi sekitar sepertiganya. Ia mengatakan, pelepasan energi di zona tersebut sebenarnya justru diharapkan sedikit demi sedikit. Sejarah mencatat, gempa yang berpusat di sana pernah terjadi tahun 1650 dan 1833 dan menimbulkan tsunami yang diperkirakan sampai setinggi 10 meter di Padang. Menurut Danny, saat ini segmen Mentawai sudah memasuki siklus 200 tahunan tersebut. Meski demikian, sampai saat ini belum ada teknologi dan belum ada seorang pun yang bisa memastikan kapan pastinya gempa tersebut terjadi.

Jakarta Tidak Mempunyai Episentrum Gempa

Selasa, 6 Oktober 2009 | 22:22 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi menjadi episentrum atau pusat gempa. Namun, kewaspadaan terhadap dampak gempa di sekitarnya tetap harus diwaspadai. "Jakarta dalam sejarah kegempaan Jawa tidak mempunyai episentrum gempa. Tetapi Jakarta terpengaruh oleh gempa yang terjadi di Jawa, seperti gempa Pangandaran," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Dr Hery Harjono dalam jumpa pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (6/10). Hery mengatakan bahwa Jakarta tidak mempunyai potensi pusat gempa karena posisi Jakarta tidak berada pada suatu patahan lempeng bumi yang aktif. Meski tidak berpotensi menjadi pusat gempa, Jakarta akan terpengaruh oleh gempa di Jawa sehingga konstruksi infrastruktur dan bangunan juga harus mengikuti aturan tahan gempa. "Tetapi karena Jakarta banyak terdapat gedung-gedung tinggi, harus dipersiapkan kesiapsiagaan dan antisipasi bencana gempa," katanya. Pada kesempatan tersebut, Hery menjelaskan dan memprediksikan kemungkinan gempa yang bakal terjadi di daerah Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Tiga daerah tersebut, kata Hery, mempunyai potensi tenaga dari pergeseran lempeng bumi yang belum terkurangi oleh gempa-gempa sebelumnya, seperti gempa Sumatera Barat dan gempa di Sungai Penuh, Jambi. "Kita bukan menakut-nakuti masyarakat. Kita mengemukakan ini agar masyarakat sadar dan bersiap untuk menghadapi gempa," katanya. Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Prof Jan Sopaheluwakan mengatakan bahwa kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana seperti gempa perlu terus ditingkatkan karena potensi gempa tetap akan ada. "Kita harus terus mengupayakan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa karena potensi bencana akan terus terjadi," katanya.

Kamis, 08 Oktober 2009

"Weh Porak", Primadona Baru di Bumi Nanggroe

Selasa, 6 Oktober 2009 | 07:54 WIB BANDA ACEH, KOMPAS.com - "Weh porak (air panas)" di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, menjadi objek wisata primadona masyarakat sejumlah daerah sekitar wilayah sentra produksi kopi Arabika itu seperti Aceh Tengah, Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Hampir setiap hari libur seperti hari raya Idul Fitri 1430 Hijriyah, masyarakat berbondong-bondong mengunjungi objek wisata yang memiliki kolam pemandian air panas tersebut. Mereka datang menikmati panasnya air yang bersumber dari Burni Telong. Sumber air panas yang berada di jalan negara Bireuen-Takengon (ibukota kabupaten Aceh Tengah). Objek dan daya tarik wisata sumber air panas (dalam bahasa Gayo disebut weh pesam) tersebut berada di Simpang Balik atau sekitar 80 kilometer dari Kabupaten Bireuen. Lokasinya hanya beberapa meter dari jalan negara menuju Kabupaten Aceh Tengah. Masyarakat yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh itu ingin menikmati hangatnya air gunung Burni Telong kabupaten pemekaran dari Aceh Tengah tersebut. Air panas yang hangat kuku itu membuat pengunjung betah karena udara kawasan sejuk. "Kalau musim libur tidak ada tempat parkir karena ramainya warga yang datang," kata seorang penduduk setempat, Aman Syukri. Kini kolam pemandian air panas ini sudah menjadi objek primadona masyarakat. Air dari dalam bumi di tempat ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. "Masyarakat yang datang dari berbagai kabupaten pesisir itu lazimnya mandi karena dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, kudis, panu dan penyakit kulit lainnya. Ini bisa jadi karena itu tergantung pada orang yang merasakannya," katanya. Pengunjung yang mendatangi sumber air panas itu dipungut biaya tiket masuk Rp 2.000 per orang, baik anak-anak maupun dewasa dan mereka bisa mandi sepuasnya. "Biaya yang dipungut di objek wisata itu sangat murah, terjangkau bagi siapapun yang berkunjung ke lokasi tersebut. Harga tiket seperti itu menjadi salah satu faktor masyarakat banyak berkunjung ke objek wisata tersebut," ujar Aman.

Ketika Turis Asing Kepincut Besemah

Kamis, 8 Oktober 2009 | 17:05 WIB PAGAR ALAM, KOMPAS.com — Indonesia adalah negara kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya terhadap aneka budaya dan panorama alamnya. Namun, banyak keindahan alam dan keunikan tradisi Indonesia yang belum terpublikasikan secara luas ke dunia internasional. Meski begitu, toh ada juga wisatawan-wisatawan mancanegara yang memiliki "penglihatan" tajam dan kepincut dengan Indonesia. Bradley J McDonell, seorang warga negara Amerika Serikat, jatuh cinta pada Pagar Alam. Ia sengaja datang ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel), untuk mempelajari bahasa Besemah yang digunakan masyarakat setempat. "Memang bukan hanya dari segi bahasa yang menarik untuk dipelajari melainkan juga seni budaya Besemah," kata Bradley J McDonell, di Pagar Alam, Rabu (7/10). Ia mengatakan, memang cukup jauh perbedaan antara adat istiadat warga Indonesia, terutama suku Besemah, dengan kehidupan di Negeri Paman Sam, terutama terkait hubungan kekerabatan. "Namun kalau di lingkup Suku Besemah, semua jalinan keluarga, meskipun hubungan darahnya sudah jauh, masih tetap terjalin dengan baik. Hal ini terbukti dari setiap ada acara syukuran yang lebih banyak dilakukan karena hubungan kekerabatan," kata dia. Menurut dia, daerah Besemah memiliki kekayaan yang cukup banyak, bukan hanya dari sektor pariwisata alam, melainkan juga budaya, sejarah, dan seni. "Meski demikian, hal ini masih perlu digali dan dilestarikan. Kalau tidak, akan semakin tergilas dengan budaya modern," ungkap dia lagi. Menurut dia, sekarang ini sudah sulit untuk bisa menemukan orang yang paham dan mengetahui betul tata bahasa Besemah, termasuk seni budaya yang banyak dilakukan pada zaman dahulu. "Di daerah Besemah banyak dikenal seni tutur, guritan, berejong, dan gitar tunggal, tapi saat ini sudah mulai tergilas dengan musik modern seperti organ tunggal dan kesenian lainnya," ungkap dia yang dalam beberapa hari berada di Pagar Alam sudah fasih berbicara bahasa Besemah. Dalam memahami budaya Besemah, yang paling penting adalah mengetahui bahasa dan mampu memahami tata bahasa yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sementara itu, menurut budayawan Besemah, Satarudin, memang banyak seni budaya dan adat asli Besemah yang sudah hilang atau ditinggalkan. Menurut dia, selain kalah bersaing dengan budaya modern, orangtua yang mengajarkan budaya dan adat istiadat kepada anak-anaknya juga sudah jarang sekali ditemui.

Pantas Saja Harga Tokek Bisa Selangit!

umat, 25 September 2009 | 20:35 WIB KOMPAS.com — Dengan iming-iming akan mendapatkan keuntungan besar, seorang pemuda bernama Firdaus (21) dalam satu tahun terakhir telah menggeluti bisnis jual beli binatang yang kabarnya dapat menyembuhkan HIV/AIDS itu. "Saya sudah 1 tahun bisnis tokek. Awalnya saya kenal sama seseorang bernama Mat Nur, lalu kita diskusi bagaimana caranya dapat duit banyak. Terus saya dengar tokek harganya mahal, ya udah sejak itu saya cari tokek dan saya jual-beliin deh," kata Firdaus saat ditemui Kompas.com di kediamannya di Kawasan Cipete Selatan, Jakarta, Jumat (25/9). Untuk memelihara tokek-tokek itu, Firdaus mengaku tidak pernah mengalami kesulitan. Pasalnya, memelihara tokek, menurutnya, tidaklah sulit. Selain itu, ongkos makan juga tidak mahal. "Ternak tokek sebenarnya gampang. Satu minggu kita cuma kasih dia makan jangkrik seharga Rp 5.000 sebanyak dua kali. Artinya satu tokek seminggu biaya makannya Rp 10.000," katanya. Jumlah tokek yang dimiliki Firdaus saat ini delapan ekor. Dari delapan tokek yang dimilikinya, berat maksimal adalah 2 ons, sedangkan yang paling ringan 1 ons. Meski telah 1 tahun berbisnis tokek, Firdaus mengaku belum pernah merasakan menjual tokek dengan harga yang fantastis. Harga tertinggi yang pernah didapatkan hanya Rp 2 juta. Ini karena tokek yang dimilikinya hanya memiliki berat maksimal 2 ons. "Susah cari tokek yang besar. Tokek besar banyaknya di daerah, kalau di Jakarta jarang. Paling ada kecil-kecil," katanya. Harga tokek bervariasi. Sementara itu, mengenai harga jual tokek di pasaran, menurut pria bujang ini, tergantung berat tokek itu sendiri. Semakin besar atau berat tokek, harganya makin mahal. "Kalau tokek ukuran 1 ons di pasaran bawah (bukan harga dari eksportir) Rp 100.000, kalau tokek 1,5 ons Rp 200.000, tokek ukuran 2 ons Rp 500.000 sampai Rp 2 juta. Tokek 2,5 ons harganya antara Rp 5 juta dan Rp 30 juta," paparnya. Menurutnya, harga tokek mulai beranjak tinggi jika memiliki berat di atas 3 ons. Harga tokek dengan berat 3 ons sendiri, menurutnya, memiliki harga dari Rp 30 juta hingga Rp 100 juta-an, sedangkan tokek dengan berat 3,5 sampai 4 ons biasa dihargai dengan Rp 100 juga hingga Rp 800 juta. "Harganya bervariasi karena tiap bos beda harganya," ujarnya. Binatang sensitif Lebih lanjut, Firdaus mengatakan, tokek merupakan jenis binatang yang cukup sensitif. Reptil yang masuk golongan cicak besar, suku Gekkonidae, ini gampang stres. "Kalau dibawa pindah dari satu tempat ke tempat lain akan kelihatan. Pernah teman saya bawa dari Padang ke Jakarta buat dijual. Dari Padang beratnya 7 ons. Eh pas sampai Jakarta beratnya turun jadi 2 ons. Ternyata pas ditanya ke orang yang ngerti, itu gara-gara stres. Malah yang lebih parah lagi, teman saya bawa (tokek) dari Tanah Abang (Jakarta Pusat) ke Pasar Minggu. Eh pas sampai tujuan tokeknya mati. Akhirnya gagal dijual," ungkapnya. Menurut Firdaus, tokek adalah binatang yang sejak dulu dikenal dapat menjadi obat. Daging tokek, menurutnya, dipercaya banyak orang merupakan obat gatal. Begitu juga dengan darah dan empedu tokek. "Konon, empedu tokek yang sudah jadi kristal bisa jadi obat apa aja. Itu biasanya kalau tokeknya sudah 4 ons beratnya. Terus, tokek juga katanya bisa jadi obat HIV/AIDS, tapi enggak tahu apanya. Ada yang bilang darahnya, dagingnya, lidahnya," ujarnya.

Sabtu, 25 Juli 2009

"Disappearing Crewmates - The Final Day of the Straw Hat Crew"

Zoro disappears as the real Bartholomew Kuma arrives at the battle. Luffy tell everyone to run, but Kuma catches up with Sanji, Usopp and Brook. Brook attempts to protect them, but also disappears. Sanji rages and attacks but gets pushed away and Usopp is the next one to disappear. Sanji rushes to attack again and vanishes as well. Luffy activates Gear Second, and runs to Kuma, but can't stop Kuma from sending Franky and Nami away. Kizaru is disappointed and say that he never trusts pirates. After a short conversation with Silvers Rayleigh that arouses Kizaru's suspicion, Kuma stand in front of Chopper. Chopper, in Monster Point, attacks Kuma and disappears. Luffy, in desperation, runs to save the last one, Robin, but Kuma is faster than him, use his power on Robin. Luffy falls and breaks down, distraught that he couldn't save his crew. Kuma bids Luffy goodbye and sends him away. The Straw Hat Pirates are completely defeated.

Nggak Percaya?, Meracik Bom Semudah Bikin Nasi Goreng

Rabu, 22 Juli 2009 | 05:54 WIB bomTEMPO Interaktif, Jakarta - Bahan untuk bom yang diledakkan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat pagi pekan lalu, bisa diselundupkan ke dalam hotel di antara dodol. Bahan peledak itu lalu dirakit di Kamar 1808 Hotel JW Marriott bak meracik nasi goreng. Inilah perumpamaan Akhmad Rifai, pakar bom dari Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), tentang cara teroris memasukkan bomnya ke Marriott. Diketahui, hingga kini cara bom itu dimasukkan ke Kamar 1808 itu masih merupakan misteri. Menurut Akhmad, peneliti BPPT yang menimba ilmu tentang bom dan bahan peledak di Jerman, hotel biasanya hanya menggunakan detektor logam untuk mencegah masuknya bom. Alat ini kurang awas. “Detonator yang cuma sepanjang 3,5 sentimeter dan diameter 2 milimeter jelas bisa lolos lewat atas meja bersama telepon genggam dan harta benda mengandung logam lainnya seperti gantungan kunci,” ujarnya. Semudah itu pula meloloskan bahan peledak. Tanpa pemindai sinar-X seperti yang ada di bandara-bandara, bahan mirip dodol itu--padatan yang mudah dibentuk--bisa dikemas seperti makanan. ”Tinggal masukkan dalam stoples, di atasnya ditumpuk dengan kemasan plastik berisi makanan, pasta itu sudah sulit dibedakan,” katanya. ”Tidak semua petugas keamanan di hotel dan mal di Tanah air fasih dengan bentuk-bentuk detonator, bahan peledak, booster, dan komponen pendukung bom lainnya,” dia mengingatkan. Sebenarnya anjing bisa dilatih untuk mengendus bahan peledak. Namun, ujar Akhmad, kepentingan pengunjung membuat hewan ini sering kali dianggap kurang produktif. “Istri saya, misalnya, lebih memilih tidak jadi masuk ke mal kalau melihat ada anjingnya,” kata Akhmad. Bagaimana dengan kabel-kabel bom? Ini juga bisa diselundupkan dalam notebook. “Tinggal tukar baterai,” kata Akhmad lagi. Menurut dia, tidak perlu kabel panjang untuk merakit bom kembar. “Tidak sampai setengah meter. Sepuluh sentimeter juga cukup,” kata dia. Sesampai di dalam kamar hotel, seluruh komponen tinggal dirangkai secara fisik. "Tidak perlu reaksi kimia. “Ini sangat mudah seperti bikin nasi goreng saja,” ujarnya.

You You Lahirkan Anak dari Sperma Beku

Sabtu, 25 Juli 2009 | 08:40 WIB TEMPO Interaktif , Beijing - Untuk pertama kalinya, anak panda raksasa telah lahir di Cina dalam sebuah inovasi reproduksi. Binatang asal Cina ini terlahir dari sperma beku, papar ilmuwan negeri “Tirai Bambu”, yang diharapkan akan membantu menghindari punahnya spesies langka ini. pandaAnak yang baru lahir Kamis (23/7) berasal dari sperma induknya yang sudah mulai langka. Panda yang baru lahir dari induk You You, merupakan panda betina di Wolong Giant Panda Research Center di barat daya Sichuan. Panda ini adalah panda kesepuluh yang diuji coba dalam fasilitas pembiakan ini. Namun ini kelahiran ketiga You-you yang sukses. Peneliti Panda mengatakan, ini adalah kelahiran pertama yang berhasil hidup di seluruh dunia dengan menggunakan sperma beku panda. "Kami pernah melakukan sebelumnya dan gagal," kata Huang Yan, wakil penelitian teknisi dengan Cina pelestarian Panda Research Center. Dia menolak untuk memberikan secara spesfik tetapi Tim Wolong telah meningkatkan teknik, membuat sperma beku sperma lebih bertahan hidup. Contoh Sperma beku menggunakan nitrogen cair, dan di masa lalu, hanya 20 sampai 30 persen dari sperma yang bertahan hidup. Tetapi kali ini, pengelolaannya bisa meningkatkan kelangsungan hidup menjadi sekitar 80 persen, "ujarnya. Sperma panda bisa diambil pula dari panda jantan yang berada di Kebun Binatang di San Diego, Mexico City atau di tempat lain. Inilah yang akan menjadi kunci untuk meningkatkan populasi panda yang sehat karena terlalu banyak kawin sedarah dapat mengakibatkan kelahiran cacat, yang selanjutnya akan mengancam kelangsungan hidup dari spesies. Teknik juga telah digunakan di Kebun Binatang di Amerika Serikat, termasuk di kebun binatang San Diego, di mana perempuan panda Hua Mei, dilahirkan pada tahun 1999 dengan menggunakan sperma dari Shi Shi, seorang panda jantan yang lahir di alam liar di Cina, "kata Yadira Galindo, juru bicarakebun binatang San Diego. Panda adalah binatang yang terancam kehilangan habitatnya, karena rendahnya reproduksi. Panda betina di alam liar biasanya melahirkan sekali setiap dua atau tiga tahun. Hanya sekitar 1.600 Pandas hidup di alam liar, terutama di Cina barat daya Provinsi Sichuan, yang terkena gempa bumi pada tahun lalu dan menewaskan hampir 70.000 orang. Selaligus merusakkan 120 tempat pemeliharaan dan Kebun Binatang, dan hanya sekitar 20 panda tinggal di kebun binatang di luar Cina.

MARAKNYA PIN BLACKBERRY KLONINGAN

BlackBerry dari pasar gelap dicari lantaran operator tak ssanggup. Sebuah selebrasi kecil “meledak” di tengah keramaian acara Indonesia Cellu-lar Show di Jakarta, Rabu lalu. Petasan kertas dan tepuk tangan riuh menarik perhatian para pengunjung. Begitulah cara Axis, si bungsu di antara operator yang melayani BlackBerry, meluncurkan layanan BlackBerry. Sebagai awalan, Axis hanya menjual BlackBerry Javelin dan Bold. Tak jauh dari keriuhan pesta itu, sebuah antrean mengular. Ratusan orang rela menunggu berjam-jam di depan booth Nexian, sebuah vendor ponsel lokal. Lalu apa hubungannya dengan BlackBerry? Sebetulnya tak ada, kecuali sebuah handset mirip BlackBerry. Inilah yang membuat orang betah berdiri berjam-jam ditemani gadis-gadis cantik dibalut terusan mini. “Modelnya persis BlackBerry, yang beda cuma atasnya,” kata Novianti Apsari, 27 tahun,salah seorang pengantre. “Harganya juga murah banget.” BlackBerry memang menjadi “wabah” di sini. Asli maupun tiruan, semua diburu. Pertumbuhannya mencengangkan (tentu saja takter masuk pengguna Nexian yang mirip BlackBerry itu). Angka pengguna BlackBerry di Indonesia, menurut perkiraan, mencapai 300 ribu orang. Indosat pernah menyebutkan bahwa pertumbuhan pelanggan mereka mencapai 600 persen pada tahun lalu. Meski bukan perangkat murah, demand terhadap BlackBerry tinggi sekali. “Sementara operator tidak bisa memenuhi kebutuhan itu,”kata Handono Warih, Manajer Broadband BlackBerry dan 3G XL. “Pengguna akhirnya berusaha mencari dari luar operator, dan black market pun bermunculan.”BlackBerry dari pasar gelap inilah yang mengkhawatirkan. Tak ada yang bisa menghitung berapa jumlah yang beredar di sini. Tapi sebuah angka mengejutkan terungkap dari Indosat. Sebanyak 80 persen pelanggan Indosat ternyata tak membeli handset dari operator, sebagaimana aturan yang ditetapkan Research in Motion (RIM), sang pembuat BlackBerry. Bisa saja memang sebagian adalah handset yang dibeli dari luar negeri, tapi jelas bukan tak mungkin sebagian juga adalah handset dari pasar gelap.Salah satu dampak dari maraknya handset pasar gelap adalah terjadinya penggandaan PIN. Padahal PIN adalah kunci yang akan menghubungkan handset ke server RIM yang pada akhirnya membuat handset itu terhubung ke Internet. Penggandaan PIN telah membuat RIM bertindak dan mensuspensi handset dengan PIN kloning. Masalahnya, pengguna yang membeli dari operator juga terkena getahnya. Mereka pun menjerit. DEDDY SINAGA | KARTIKA CANDRA

India Bikin Granat dari Cabai

Sabtu, 27 Juni 2009 | 20:24 WIB TEMPO Interaktif, Guwahati: Setelah bosan menjadikan cabai hanya sebagai bumbu dapur, baru-baru ini India melontarkan gagasan baru menjadikan bumbu dapur yang berasa pedas itu sebagai bahan granat tangan. Gagasan itu disampaikan ilmuwan Departemen Pertahanan India, Kamis lalu. Rencananya, mereka akan mengganti bahan peledak dalam granat tangan dengan bubuk cabai terpedas di dunia, yakni bhut jolokia. "Proyek itu sedang kami kerjakan saat ini, yakni bagaimana menggunakan cabai terpedas dalam aplikasi berbeda untuk memperkuat pertahanan," kata ilmuwan R.B. Srivastava. Bubuk bhut jolokia, yang ditemukan di wilayah timur laut India, rencananya difungsikan sebagai bahan granat untuk mengatasi perusuh dan melumpuhkan para pembangkang tanpa harus membunuh mereka di negara itu. Bhut jolokia dipilih karena cabai berwarna merah ini memiliki rasa yang sangat pedas, yakni seribu kali lebih pedas dibanding cabai biasanya yang digunakan di dapur. Berdasarkan hasil ukur dengan skala Scoville--skala yang digunakan untuk mengukur kadar panas dalam cabai--bhut jolokia menghasilkan sejuta unit panas. Dan panas yang tinggi ini bisa membuat lawan cepat terkejut. Selain untuk granat, peneliti Departemen Pertahanan dan organisasi pembangunan India berencana menjadikan cabai ini sebagai food supplement untuk tentara yang bertugas di daerah dingin, guna meningkatkan suhu tubuh mereka. Cabai ini juga akan dijadikan pelindung dari gangguan binatang, yakni dengan menyebarkan bubuk cabai pada pagar-pagar barak tentara. Bau pedas yang sangat menyengat akan membuat binatang enggan bertingkah.

Sabtu, 02 Mei 2009

deth note

barang : ikat pinggang death note harga : Rp.55.000/nego harga lum termasuk PPN+biya kirim jika anda tertarik dapat hubungi di : telepon : 085697917154 e-mail : fatah_ryuk@yahoo.com

Senin, 09 Maret 2009

barang :gantungan kunci yang berukuran besar price : Rp. 15.000 barang :action figur price : Rp. 25.000